February 01, 2008

Mampukah Indonesia Memaafkan Soeharto?

Pak Harto memang telah berpulang. "The Smiling General" ini pergi dengan meninggalkan berbagai kontroversi mengenai kasus hukum yang tak pernah dituntaskannya. Meski begitu, di antara berjuta pro-kontra seputar sosok yang juga dijuluki Bapak Pembangunan ini, toh ribuan orang menangisi kepergiannya.
    Indonesia besar karena Pak Harto, itu tidak bisa dipungkiri. Atas kerja kerasnya, pembangunan di Indonesia maju dengan pesat, terutama di sektor pangan. Di masa pemerintahannya, mungkin kita tidak pernah mendengar adanya impor beras, impor kedelai, rakyat kekurangan beras, dsb. Harga-harga yang murah dan kondisi masyarakat yang stabil menjadi cerminan kesuksesan pemerintahan Pak Harto.
    Namun, mengutip perkataan Rieke Dyah Pitaloka, kesuksesan suatu pemerintahan tidak bisa diukur hanya dari perut yang kenyang. Agaknya, kondisi seperti itulah yang ingin diciptakan Soeharto (atau kroni-kroninya) untuk mengalihkan kecurigaan kita terhadap apa yang sebenarnya terjadi. Roda perekonomian dibuat sestabil mungkin, dengan kemudi di tangan perusahaan-perusahaan miliknya. Kondisi masyarakat yang adem-ayem - means no kerusuhan, no premanisme, dianggap subversif sedikit, DOR! - pembangunan fisik yang terus berkelanjutan, dilakukan untuk menutup mata kita agar tidak dapat melihat betapa dengan diam-diam kekayaan kita ini sedang digerogoti oleh klan beliau. Uang haram berkedok dana yayasan terus mengalir ke rekening Cendana, terbagi rata atas nama putra-putri dan orang-orang dekat lainnya. Tampaknya, Pak Harto menagih sendiri imbalannya atas jasa yang selama ini dilakukannya untuk Indonesia.
    Namun bagaimanapun, beliau sudah pergi. Betapapun hebatnya orang berkoar-koar tentang kelebihan dan kekurangan beliau semasa hidupnya, toh tidak ada lagi pengaruhnya. Selama ini, Indonesia sudah cukup lemah dan tidak berdaya menghadapi kebesaran nama Soeharto. Ketika beliau masih sehat, mereka yang berwenang pun diam saja, sama sekali tidak menyinggung kasus hukum yang seharusnya ditimpakan kepada Pak Harto. Namun ketika beliau jatuh sakit, sejak tahun 1999 hingga yang terakhir awal tahun 2008, orang-orang kembali ramai mempersoalkannya. Bahwa Soeharto tetap harus diadili, bahwa Soeharto tetap harus diajukan ke meja hijau. Blablabla. Orang-orang hanya berani 'bersuara' ketika Pak Harto dalam keadaan lemah tak berdaya. Mereka berani turun ke jalan, bahkan mengaku berani menghadapi Pak Harto secara langsung, justru di saat Pak Harto tengah menghadapi sesuatu yang lebih besar, yakni malaikat maut. Ini pertanda bahwa selama ini kita hanya menjadi tong kosong yang jika dipukul berbunyi nyaring. Kita selalu berbicara kosong, dan berteriak dengan nyaring, tetapi tidak menghasilkan apa-apa.
    Beberapa golongan menganggap, jasa yang pernah dibaktikan Pak Harto kepada Indonesia impas dengan dosa yang pernah dilakukannya. Bahkan ada pula golongan yang terlalu mengada-ada, menganggap Pak Harto layak mendapat gelar Pahlawan Nasional. Padahal, jika jasa dan dosa itu seimbang, hasilnya akan nol. Jadi sebenarnya Pak Harto tidak berhak mendapat gelar apa-apa, julukan Bapak Pembangunan pun seharusnya dicabut, karena beliau membangun secara fisik namun menghancurkan secara mental. Lagipula, salah satu syarat untuk mendapatkan gelar Pahlawan Nasional adalah, yang bersangkutan tidak pernah melakukan perbuatan yang tercela di mata hukum. Ingat saja korban-korban peristiwa Tanjung Priok yang 'menghilangkan' ratusan orang Islam , kasus Trisakti, Peristiwa Berdarah Dili 1991 yang menewaskan ratusan umat Katholik, Tragedi Kerusuhan di Kantor PDI-P yang menyebabkan ratusan orang tewas tahun 1996, penculikan mahasiswa dalam Operasi Mawar, atau pembantaian secara fisik serta pembunuhan karakter orang-orang yang dianggap PKI. Dosa-dosa di atas belum termasuk korupsi dan pencurian uang negara yang dilakukannya.
    Memang serba salah, hidup di negara yang tidak memiliki pendirian. Antara mengampuni semua kesalahan Pak Harto, atau meneruskan kasus perdatanya dengan mengembalikan uang negara yang selama ini dicuri oleh Cendana. Pilihan yang kedua tampaknya pun akan sulit dilakukan, mengingat pemerintah yang berwenang selama ini tenang-tenang saja ketika Pak Harto masih hidup, apalagi sekarang saat beliau sudah tiada. Sudah terbukti selama bertahun-tahun ini, pemerintah tidak punya nyali untuk menuntaskan kasus hukum Soeharto dan kroni-kroninya.
    Jadi sebaiknya, semuanya kita serahkan kembali kepada opini rakyat. Mampukah rakyat Indonesia memaafkan segala dosa dan kesalahan Pak Harto? Mampukah mereka yang kehilangan anak mereka di Trisakti, kehilangan keluarga mereka di berbagai peristiwa berdarah hasil dalangan Pak Harto, memaafkan beliau? Mampukah anak cucu Bung Karno memaafkan segala perlakuan Pak Harto kepada Bung Karno dahulu? Kita semua mengetahui pengkhianatan Pak Harto kepada Bung Karno, dan kita pun diwarisi wejangan JAS MERAH (Jangan Sekali-Kali Melupakan Sejarah) dari Bung Karno. Kebencian keluarga Soekarno kepada keluarga Soeharto menandakan bahwa JAS MERAH itu telah ditanggalkan oleh Soeharto. Bagaimana dengan kita?
    Baik atau buruk, sejarah tetaplah sejarah. Pak Harto pernah menorehkan sejarah gemilang, pernah pula menorehkan luka mendalam kepada bangsa ini. Indonesia tetap harus mempertimbangkan hal itu. Jadi, jangan dulu terburu-buru menyematkan gelar Pahlawan Nasional kepada beliau. Dimaafkan atau tidak, itu saja dulu.

                            

November 15, 2007

Meracau II

Peran Antagonis dalam Sinetron (Kita)

 
Menonton sinetron-sinetron tayangan TV swasta (kita), salah satu elemen yang tidak pernah absen dalam cerita-ceritanya adalah tokoh antagonis.
Tokoh ini memang menjadi salah satu penentu alur cerita menjadi menarik untuk diikuti. Siapapun yang menjadi tokoh antagonis dalam sebuah sinema, dialah yang akan menjadi pemicu awal terjadinya konflik. Konflik inilah yang kemudian dikelola sedemikian rupa agar memancing empati penonton terhadap sinetron tersebut.

 Sayangnya, dari sekian banyak cerita sinetron yang ditayangkan, hampir semua tokoh antagonis di dalamnya memiliki karakter yang serupa. Artinya, nyaris tidak ada karakter unik dari sang atagonis yang bisa meninggalkan kesan tersendiri pada penonton. Misalnya, hampir semua tokoh antagonis mengumbar kebengisan wajah yang serupa, dengan mata dibeliak-beliakkan agar tampak culas, dibantu riasan mata yang tebal dan hitam. Padahal, riasan dan ekspresi pada mata, atau ekspresi senyum yang disunggingkan miring, hanyalah penunjang kecil untuk menampilkan karakter antagonis itu sendiri. Penunjang terbesarnya adalah bagaimana si aktor memahami perannya, dan bagaimana si aktor mendalami karakter ”jahat” yang dimainkannya. Di sinetron-sinetron Islami a.k.a sinetron hidayah, azab Ilahi, dan sebangsanya, karakter antagonis seringkali ”diperbuas” hingga justru terkesan biadab, tidak bermoral, etc.

 Orang ”jahat” biasanya enggan untuk menampilkan ”kejahatannya” di muka umum. Mereka biasanya tampil lebih alami, karena ”kejahatan” itu sendiri disembunyikan rapat-rapat dalam hati. Banyak orang mengatakan, mata adalah jendela hati. Sifat asli seseorang bisa diketahui dengan memandang matanya. Dari pandangan mata, bisa terekspresi banyak hal. Mungkin, ungkapan inilah yang diterjemahkan oleh sutradara dengan mata yang membeliak-beliak culas, dan sapuan eyeliner setebal lumpur Lapindo di mata aktornya. Padahal, tidak harus seperti itu. Mata tidak harus membeliak agar tampak judes, dan senyum tidak harus miring untuk bisa memberitakan ke penonton bahwa dialah sang antagonis.

 Perhatikan Agus Melasz, Tenzara Zaidt a.k.a. Bu Subangun, atau HIM Damsyik. Mereka aktor-aktor senior spesialis peran antagonis yang sampai sekarang kesuksesannya sebagai tokoh antagonis masih selalu dipuji orang.  Mereka tampil apa adanya, karena peran dan karakter ”jahat” itu terlebih dahulu diinternalisasi ke dalam diri mereka, dan ”ditumpahkan” berdasarkan skenario di depan kamera. Untuk meniru mereka, tirulah kealamian yang mereka ekspresikan. Agus Melasz biasanya memicingkan mata jika sedang menikmati kejahatannya, sedangkan Tenzara Zaidt lebih suka melotot. Namun, hati-hati jika meniru Leily Sagita atau Darti Manulang, karena mata mereka memang sudah ”membeliak” dari sananya. Bisa jadi, wajah mereka memang ”diciptakan” untuk menjadi aktris antagonis. Jadi, jika kebetulan wajahmu ibarat wajah malaikat namun sebagai tuntutan skenario kamu harus menjadi tokoh antagonis, jangan jadikan mereka berdua sebagai referensimu. Meriam Bellina bisa menjadi referensi yang pas, mengingat aktris ini selalu sukses memerankan baik tokoh antagonis maupun protagonis. Di saat memainkan tokoh antagonis, Meriam Bellina mampu memadukan karakter culas, bawel, dan cenderung ”sakit”. Nah, inilah kata kuncinya: sakit. Orang ”jahat” adalah orang yang ”sakit” secara mental. Jika orang yang sakit secara fisik tidak sanggup menelan makanan atau minuman, nah, orang yang ”sakit” secara mental tidak sanggup melihat orang lain bahagia. Itulah definisi ”sakit” menurut cerita sinetron. Maka untuk memahami karakter ”jahat” yang diperankan olehmu, internalisasikan dulu rasa ”sakit” itu ke dalam hati. Semua perilaku, dialog, dan ekspresi ”jahat”mu akan keluar dengan sendirinya, secara alamiah. Kamu tidak akan perlu repot latihan senam muka untuk mendapatkan beliakan yang pas pada matamu, atau senyuman yang khas pada bibirmu.

Coba saja...

Meracau I

Melirik Karakter Sinetron (Kita)

 

Sebagai ibu rumah tangga pemula, akhir-akhir ini saya banyak menghabiskan waktu di rumah. Seperti layaknya ibu rumah tangga lainnya, saya pun mengerjakan semua pekerjaan rumah tangga, seperti memasak, mencuci, mengepel, bahkan menggosok lantai dapur. Sebetulnya pekerjaan-pekerjaan itu sudah biasa saya lakukan, hanya bedanya, dulu saya melakukannya di kosan. Dan saya melakukannya untuk diri saya sendiri. Sekarang, meski pekerjaan-pekerjaan itu tetap saja sama, tetapi intensitasnya lebih meningkat. Dulu, saya hanya melakukan pekerjaan semacam itu jika sedang malas ke kampus, itupun hanya sekali dalam seminggu. Selebihnya, waktu saya banyak saya habiskan di kantin kampus; betapa saya merindukan gerakan 3N (nongkrong, ngopi, ngudud) yang teramat lekat dengan sosok saya selama 10 tahun belakangan.

Kini, selayaknya ibu rumah tangga, saya harus membetahkan diri menjadi ‘nyonya rumah’. Namun, tidak selayaknya ibu-ibu rumah tangga di kompleks saya, saya tidak menghabiskan waktu luang dengan menyeret meja kecil ke depan pagar rumah, menaruh camilan-camilan di atasnya, lalu nongkrong sambil bergosip dengan ibu-ibu RT lainnya. Saya lebih memilih menutup pintu rumah rapat-rapat, menyalakan TV, dan duduk selonjoran sambil memindah-mindahkan saluran, sebelum akhirnya saya lebur dengan pekerjaan yang umumnya dilakukan para pembantu rumah tangga yang lagi nganggur; menonton sinetron.

Selama kurang lebih empat bulan mengakrabkan diri dengan TV swasta

Indonesia

, saya agak tergelitik (tapi tidak sampai kegelian) mengomentari karakter sinetron yang ditayangkan di setiap stasiun TV. Sebagai salah satu program unggulan tanah air, ternyata sinetron yang ditayangkan memiliki karakter yang berbeda dari setiap stasiun. Mulai dari cerita, teknis produksi, sampai artis pemerannya pun menjadi ‘ikon’ khusus yang menonjolkan ciri stasiun TV tersebut. Namun, dari semua perbedaan yang ada, terdapat satu persamaan di antara semuanya; ceritanya sama-sama tidak sekali a.k.a. nggak banget!

a. RCTI

Sebagai stasiun TV swasta pertama di Indonesia, bisa dibilang RCTI-lah yang paling mapan dalam memproduksi sinema elektronik alias sinetron. Lihat saja, setiap malam, di prime time berjejalan sinetron-sinetron kejar tayang, mulai dari jam 6 sore sampai jam 11 malam. Sinetron-sinetron RCTI rata-rata memiliki alur cerita yang serupa tapi tidak berbeda. Hampir semua bercerita tentang sosok perempuan yang lemah dan tertindas, yang sejak bayi ditinggalkan oleh orangtuanya hingga ia diasuh oleh orang lain yang bukan orangtua kandungnya, dikhianati oleh pacarnya, atau pacarnya direbut oleh teman dekat/saudaranya sendiri, etc, etc. Judul-judul sinetronnya pun dibuat sesuai dengan tokoh utama sinetron tersebut. Intan, Wulan, Candy, Kasih, Cahaya, Aisyah, Soleha. Semuanya perempuan. Mungkin karena di mata para produser sinetron tersebut, perempuan adalah makhluk paling sabar (jika enggan disebut lemah) dalam menghadapi masalah sehingga konflik yang diciptakan pun bisa dikelola sedemikian rupa. Ini menjadi salah satu trik untuk memanipulasi emosi penonton yang umumnya senang dibuai alur yang menghanyutkan. Akibatnya, tidak jarang cerita-ceritanya sangat dipaksakan dan terkesan mengada-ada agar penonton semakin penasaran dan sinetron pun masih bisa terus tayang.

Kemudian, dari sekian banyak sinetron produksi RCTI, para pemainnya pasti itu-itu saja. Sebut saja geng Naysilla Mirdad, Dude Herlino, Rama Michael, Indah Indriana atau Rio Refino. Mereka bermain di beberapa sinetron sekaligus yang notabene jam tayangnya bersebelahan dan cerita yang kurang lebih sama. Contoh, Rio Refino selain muncul di Cahaya, setelah itu muncul lagi di Aisyah. AtauDude yang sekelar Intan, main lagi di Aisyah. Rama Michael dan Indra Indriana pun 11-12 dengan Dude. Sah-sah aja sih borong obyekan kayak gitu, tapi kadang-kadang saya suka pabalieut; ini masih Cahaya  atau Aisyah ya?

Lalu, saya curiga kalo produser sinetron RCTI lagi ngefans-ngefansnya sama Letto. Buktinya, beberapa sinetron RCTI menggunakan lagu-lagu Letto sebagai soundtrack. Dulu Wulan  dengan Sandaran Hati, lalu Intan  dengan Ruang Rindu-nya, sekarang Cahaya  dengan Sebelum Cahaya. Jangan-jangan, si penulis skenario disuruh bikin cerita menurut lagunya Letto ya?

 b. Indosiar

Nah, kalau yang ini, spesialis India-minded. Sinetron-sinetron produksi Indosiar bagi saya adalah sinetron yang paling tidak bermutu. Mungkin karena semua artis yang lagi beken sekarang sudah diborong oleh stasiun TV sekelas RCTI dan SCTV, pemain sinetron di Indosiar kebanyakan dari kalangan ’artis biasa’, alias yang tidak pernah muncul di infotainment. Tapi persoalannya bukan pada artisnya kenapa saya menyebut sinetron Indosiar itu butut. Mereka Cuma bisa meniru, dan kenapa pula yang ditiru justru India? Ada adegan nyanyian dan tarian di tengah-tengah cerita, musik pengiring adegan pun sebagian besar berasal dari bunyi suling India. Yang lebih parah, dialognya di-dubbing, jo! Sebegitu parahnyakah vokal para pemain itu sehingga harus di-dubbing? Saran saya, kalau ingin meniru India, atau ingin membuat penonton serasa nonton film India, jangan setengah-setengah. Sekalian saja dialognya di-dubbing  ke dalam bahasa India. Aneh, Raam Punjabi aja nggak gitu-gitu amat.

c. SCTV

Meski tidak seheboh RCTI dalam memproduksi sinetron, SCTV cukup masuk hitungan dalam menjaring penonton sinetronnya. Saya pernah tinggal selama dua minggu di sebuah dusun bernama Kappe, Kab. Pinrang, Sulawesi Selatan. Kebanyakan penduduk di sana – terutama ibu-ibu dan remaja putri – memiliki acara khusus setiap jam 8 malam, yaitu menonton sinetron Cinderella a.k.a Cinta. Setiap jam 8 malam, rumah keluarga yang memiliki pesawat televisi akan dipenuhi oleh tetangga-tetangga yang khusus datang untuk menonton sinetron tersebut. Sekarang, salah satu andalan SCTV adalah Cinta Fitri  yang juga sarat pemain-pemain baru. Bedanya, sinteron SCTV tidak didominasi oleh pemain yang itu-itu saja.

 Satu hal yang mengganjal bagi saya adalah teknis pengambilan gambar pada sinetron SCTV. Jika diperhatikan, pada adegan ngobrol antara 2 orang, jarang sekali terlihat 2 orang itu secara full-angle. Mereka selalu saja di-shoot CU (close-up) atau MCU (medium close-up). Jadi sering tertangkap arah pandangan salah seorang aktor tersebut tidak match dengan orang yang diajak ngobrol. Kalau menurut teman saya, mungkin hal itu dilakukan mengingat jadwal syuting setiap artis berbeda-beda, jadi take adegan bisa saja tidak berbarengan. Iya juga, ya. Tetapi, SCTV lebih mengedepankan FTV-nya dibanding sinetron. Kebanyakan sinema-sinema lepas ditayangkan oleh SCTV, meskipun jika diperhatikan, formatnya tetap setali tiga uang dengan sinetron. Frame Ritz Production  selalu menjadi rangkulan SCTV dalam menayangkan film televisi.

d. TPI

Kalau kamu penggemar berat Adi Bing Slamet, tonton saja TPI. Sinetron Si Entong  sepertinya menjadi satu-satunya sinetron andalan TPI. Lihat saja jam tayangnya yang tidak menentu, sehari entah tiga atau empat kali sinetron ini ditayangkan. Di jam-jam yang tidak tertentu, setiap kali saya memindahkan saluran ke TPI, selalu saja dihadapkan pada wajah Fariz (Fahrul? Farid? Fahmi? Siapa ya?) si pemeran Entong, anak yang baik dan saleh yang selalu mengalami keajaiban-keajaiban. Tetapi jangan salah, meskipun terkesan cetek, sinteron model begini juga ditiru oleh stasiun TV penghasil sinteron terbanyak di tanah air. Lihat saja Eneng dan Kaos Kaki Ajaib-nya RCTI.

e. TransTV

Tidak banyak yang saya komentari dari stasiun TV ini. TransTV sepertinya memang tidak berkonsentrasi pada sinetron, melainkan pada reportase-reportase jarak jauh yang menambah wawasan. Mungkin paling enak jadi penulis skenario untuk sinetron TransTV. Tinggal baca buku dongeng atau legenda, bikin skenario berdasarkan cerita dongeng/legenda tersebut, jadilah. Sayangnya, karena setting cerita dibuat berdasarkan kenyataan sekarang, cerita dari dongeng dan legenda itupun jadi tidak menarik hati.

 

Stasiun-stasiun TV swasta selain kelima stasiun TV di atas, sama sekali tidak menerima racauan dari saya. Selain karena sinteron mereka memang tidak layak dikomentari (syukur-syukur ada!), saluran mereka memang jarang saya kunjungi. Capek!

November 11, 2007

HIT A TREE

Yesterday afternoon, when I was walking around my neighborhood at Antapani area in mBandung, suddenly I sight a board written "FISH POND". The board signed for a baked-fish restaurant. Looking at the "FISH POND" writing, my memory all went back to 3 month ago when we were all in Kappe. How many times we say those words "FISH POND"? Hundred times? Thousand times? All the memories were all coming back to me so much that I was almost hit by a motorcycle. Then I walked passing through the board, and when I looked back, I saw another writing in the back side of the board. I supposed that the writing is the translation of the "FISH POND" in the front, but it's written: POS IKAN. Then, I really hit a tree...

August 18, 2007

What is "rich" what is "poor"?

Siang kemarin (17/8), pete-pete yang saya tumpangi tertahan lampu merah tepat di perempatan pintu II Unhas. Udara yang cukup panas membuat saya iseng melihat kesana-kemari, sekadar melupakan gerah yang membuat sekujur tubuh saya terasa lengket.
Lalu, seorang pengemis perempuan yang menggendong seorang bayi sudah muncul di pintu pete-pete yang saya tumpangi. Sambil mengacungkan sebuah gelas plastik berwarna merah, pengemis itu berucap dengan nada mengiba: "...minta uangta' dulue, seratus mo...!"
Sesuatu menahan tangan saya yang hendak merogoh tas mencari "uang seratus yang diminta pengemis itu". Sungguh, saya hanya tertarik mengamati penampilan pengemis itu. Demi apapun di dunia ini, ia tidak tampak seperti seorang pengemis! Perempuan itu mengenakan scarf bermotif bunga di kepalanya, kemeja jeans berwarna biru yang tampak seperti baru saking bersihnya, dan sarung yang dikenakannya pun lebih bersih dari sarung Bugis yang sering saya pakai mandi. Dan yang paling mengesankan saya adalah wajahnya. Apakah setiap kali hendak "bekerja", ia berdandan dulu? Wajah perempuan itu dipolesi bedak agak tebal, celak hitam menegaskan kelopak matanya, dan bibirnya pun tak luput dari sapuan gincu bernuansa burgundy.
Sungguh, jika saja saya bertemu perempuan ini di tempat yang lain, di waktu yang lain, dan dalam suasana yang berbeda, saya bisa saja mengiranya sebagai seorang mahasiswa semester delapan (atau, mungkinkah ia memang mahasiswi semester delapan yang sedang menyamar atau kerja sambilan?).
    Saya teringat salah satu kelompok dalam FASID Fieldwork Program 2007 yang baru lalu. Mereka mempertanyakan konsep "kaya" dan "miskin" bagi penduduk Dusun Kappe, bahwa mereka selalu mengakui dirinya miskin, padahal mereka memiliki barang-barang yang mewah dan tinggal di rumah yang bisa dibilang bagus. Rupanya contoh konkret dari biasnya konsep "kaya" dan "miskin" itupun tersaji di depan mata saya saat ini. "Kemewahan" penampilan pengemis perempuan itu menimbulkan pertanyaan dalam diri saya: "...apakah ia memang hanya membutuhkan uang seratus rupiah?". Kenyataannya adalah, ia tidak akan mampu membeli bahkan sehelai scarf pun hanya dengan uang seratus perak. Akal saya mencoba menengahi dengan munculnya asumsi, mungkin saja pakaian yang dikenakannya adalah pinjaman atau sumbangan, jika saya memang ingin memaksa diri percaya bahwa perempuan pengemis itu adalah orang miskin. Muncul pertanyaan lain, kali ini memaksa kehadiran bayi di gendongan perempuan pengemis itu menjadi alasan. Mengapa bayi itu seolah sengaja dibuat tampak sehat dan lucu dengan balutan sweater bayi berwarna putih dan pink? Bukankah bagi sebagian besar pengemis yang beroperasi di jalan-jalan raya, kehadiran bayi pucat, kurus, dan kelaparan adalah salah satu upaya untuk menggugah rasa iba sesama?
Intinya, mengapa ketika melihat bayi itu, saya justru merasa bahagia, bukannya kasihan? Bahkan ketika suara memohon sang pengemis yang diperbuas dengan kesan "tidak neko-neko" : "...seratus mo kodong...!"

Sampai pete-pete itu berlalu, saya masih tidak habis pikir, apa yang ada di dalam pikiran perempuan pengemis itu? Benarkah ia hanya membutuhkan seratus perak dari setiap penumpang? Dan saya pun tidak habis pikir dengan pikiran saya sendiri, kenapa saya harus memikirkan apa yang dipikirkan perempuan pengemis itu? Pentingkah?

Sudahlah.
Anggap saja ini permulaan bagi blog saya yang terabaikan selama kurang lebih tiga bulan.

Sudahlah.

April 19, 2007

The Two-Swords Style: Miyamoto Musashi

Reading The Lone Samurai: Kehidupan Miyamoto Musashi, I was brought back to Japan's life centuries ago. I only have a bit knowledge about samurai's life (watching The Last Samurai didn't help me much...actually, not at all!), and here I am, enchanted by how William Scott Wilson presented very deeply about life of a shugyosha (master of swordmanship in Old Japan who roamed to all over the country, supporting their life without money and permanent jobs) named Miyamoto Musashi.                     
Bennosuke, was born in Miyamoto-mura, 1584. He started his first fight in age 13, against Arima Kihei, a master of Shinto-ryu sword in Hirafuku, Province of Banshu. That time, Bennosuke (Musashi's childhood name) replied fight challenge from Kihei who - certainly - expected that his challenge will be replied by someone older, or maybe better in swordmanship. But there came Bennosuke, a 13 years old boy, kicked him with a 6 ft wooden-stick. Later, Bennosuke was known as Miyamoto Musashi, one of the best swordman in Japan history.
    The most famous Musashi's fight was held in Mukaijima (an empty island between Kokura and Nagato Shimonoseki), against Sasaki Kojiro. Kojiro was a swordman who held a dojo under Hosokawa clan, and known as a swordman with his fastest and smoothest sword-style that there was no way for his enemies to break his stronghold. But in fighting Kojiro, Musashi used his famous double-layer strategy. First layer involved psychological treat. By coming late to the fight place, he messed up Kojiro's psychological balance; anger and panic really destroyed the concentration needed by Kojiro. He had to wait for Musashi much longer than the time agreed before, under extreme sunshine in the middle of the island, amongst his followers of Hosokawa dojo. Second strategy was the strength of observation. Musashi had learned that Kojiro liked to use a long sword and there was possibility that he would count on the superiority of his long sword. That's why Musashi engraved his boat-oar to a wooden-sword, 1 inch longer than Kojiro's sword. He seized his enemy's strength to make it his own strenght. These strategies were good enough to beat the most famous swordman master of Kokura.
    In age 17, Musashi participated in a big fight called The Battle of Sekigahara (after the fall of Nobunaga Shogunate in 1600), where the Tokugawa clan defeated the Toyotomi clan. During this period, Musashi served his life for Tokugawa Ieyasu of Tokugawa Shogunate.
    While still being a shugyosha, Musashi also accepted students to develop his sword style. He developed his own sword-style called The Two-Sword Style/Niten Ichi-ryu or Gaya Dua-Pedang. He wrote his sword techniques in his book, The Book of Five Circles (Kitab Lima Lingkaran)/Gorin no sho. But actually, this book consisted of not only raw techniques he developed. The book also consisted of his understandings of Zen Buddhism. Another one was The Road to Walk Alone (Jalan Melangkah Sendiri)/Dokko no michi, a short script about the core of Musashi's philosophy. This one was written in Mei 12, 1645, one week before his death.
    After leaving his fighting career, Musashi clarified himself as a good artist. He painted several unvaluable painted that now kept in some museums in Japan. The most prominent things in his pantings were that he used to paint the Zen personages, birds and animals. Why he loved birds very much? He was not a person who collected and kept birds in cages like many daimyo in his age always did. Musashi was interested in birds which lived in wild-nature, admired their intensities, cheerfuls, natural twitches, and most of all, their freedoms to fly. Other objects always found on Musashi's paintings were Daruma (a Zen sect founder known in Japan) and Hotei (another Zen holyman from China). By the way, Musashi's art name was Niten, as he always marked his paintings: Niten - of course in Kanji writings. As an artist, Musashi was almost as good as sword-polisher artist of Kyoto, Hon'ami Koetsu. His one of his incredible work was a little statue of Fudo Myo-o, a god in Zen belief. He described Fudo Myo-o as a god who always prepared to destroy Buddhis enemies. In Musashi's understanding, Fudo Myo-o was a quiet mind and motionless body. Motionless means undetained. Keep staring on something without stopping the mind, that's motionless.
    Musashi spent his rest of lifetime in Reigan Cave, outside Kumamoto town. In this place, he spent his time doing sit-meditation (zazen) and writing his Book of Five Circles. Reigan Cave was the place he chose to die. He always loved nature and wild universe since he chose his way becoming a shugyosha. But his dreaming about commemorating his death in this quiet cave was not succeeded because he was brought back to the Castle of Chiba, his own residence by his relative, Matsui Sado no kami Okinaga. In this castle, Musashi died in age 62.
    According to his last request, Musashi's body was embellished by a fighting-uniforms, with 6 military symbols, and buried in a coffin in Handagun, 5-cho, Tenaga Yuge Village. His adpted son, Miyamoto Iori, built a stoned-monument called Kokura Hibun, all to respect the most legendary swordman master, Miyamoto Musashi.

Musashi was a friendly man, he was accepted everywhere as an interesting and valueable person. He respected his enemies as much as he respected himself.

"...ada saat ketika kau di permukaan merasa menang, tetapi sikap permusuhan tetap ada di dalam pikiran lawanmu. Dalam situasi seperti itu, kau harus menyesuaikan dirimu sendiri, menghancurkan semangat lawanmu, dan memastikan agar di lubuk hatinya yang paling dalam ia merasa sudah betul-betul dikalahkan."

April 17, 2007

Jatinangor Kapilem, Euy!!

"...Delly Chaniago, Metro-TV, melaporkan langsung dari Jatinangor, Sumedang."
"Saya, Rosiana Silalahi, akan mengajak Anda melihat perkembangan terbaru dari kampus IPDN di Jatinangor, Sumedang."
"...rekonstruksi kematian Cliff Muntu dilakukan tadi malam di Barak DKI, kampus IPDN - Jatinangor, Sumedang."
"Benarkan kematian Wahyu Hidayat dan Cliff Muntu, praja IPDN Jatinangor, Sumedang ini hanyalah sebuah konsekuensi dari bentuk pendisiplinan? Kita akan mengupas hal ini setelah pesan-pesan berikut."

Gaya lah. Ayeuna mah Jatinangor disebutkeun wae euy dina tipi. Enya sih, musabab Jatinangor jadi terkenal teh sanes pedah nu alus. Kapanggih deui hiji kagorengan anu salila ieu teras disumputkeun salah sahiji kampus "panggagahna" di Jatinangor, nyaeta IPDN a.k.a STPDN. Sok we tempo, dihareupeun gerbang IPDN pasti aya wae mobil dines stasiun tipi, nya SCTV lah, nya Metro TV lah, nya ANteve lah. Jeung ayeuna oge, sanes masalah paehna CLiff Muntu wae matak wartawan teh ngudag-udag barudak IPDN. Ayeuna kasus nu berkembang anu keur diendus ku irung wartawan jeung reporter teh nyaeta seks bebas jeung drug-using. Tah, batur teh nggeus curigaeun kabeh mun barudak IPDN teh nteu baraleg. Enya sih, nteu kabeh nu teu baraleg, tapi angger, leuwih rea nu teu baralegna!
Maraneh anu ngekosna di daerah Caringin jeung GKPN, lamun hoyong ngetop, siap-siap weh mejeng di hareupeun kosan. Wartawan keur ngudag tempat kos barudak IPDN tah. Ayeuna penduduk lokal ge nggeus waranian tah ngalaporkeun kalakuan barudak IPDN anu teu baraleg. Urang mah lain ngomporan nya, tapi jujur weh nggeus muak kana legegna barudak eta. Kasus kapanggihna kuburan budak STPDN nu paeh taun 93 (Alian bin Jerani, kotingen Kalimantan) di Cibeusi jadi salah sahiji bukti kejahatan anu disumputkeun. Enya lah, ceuk beja oge, sahebat-hebatna duren disumputkeun, pasti kaambeu oge seungitna. Da ari mayat mah lain duren atuh, dina kaambeu na ge da bau. Urang mah beuki keneh duren, komo mun durenna siga Tengku Rafly!
Waraduk lah careurikna awewe-awewe IPDN anu teu tarima barudak IPDN dituduh sok ngalakueun seks bebas. Nyarahoeun teu maranehna kasus 2-3 taun kamari, budak STPDN awewe nu ngarana Utari paeh pedah aborsi? Nyarahoeun teu maranehna 2-3 taun kamari aya budak STPDN dipecat sapoe saacan wisuda pedah ngareuneuhan budak batur? Nyarahoeun teu maranehna praja-praja IPDN mun keur di kosan gaweanana naon wae? Marabok! Matak urang satuju pisan demona barudak Jakarta anu menta praja-praja IPDN teh dites urin. Soklah titah narangtung kabeh kaluarkeun kiihna mun teu soak tah Ryaas Rasyid!
Sedih oge sih, naha Jatinangor teh kapilem pedah ku goreng hungkul. Da pasti kabawa-bawa atuh nu sanesna oge. Da pasti saterusna bakal kitu salila IPDN aya keneh. Waduklah bakal aya perubahan sistem secara total, mun maranehna angger jadi "anak emas". Dina eureunna legeg ka juniorna ge da angger pasti legeg keneh ka batur non-IPDN. Mun kitu deui kitu deui, nggeus weh ti ayeuna IPDN pindahkeun ka daerah lain anu jauh ti Jatinangor. Ka Pulau Rote tah pindahkeun, sina jadi Robinson Crusoe kabeh! Mun aya nu maot pan tinggal leuleupkeun we ka laut.
Ti saprak kasus Wahyu Hidayat, ayeuna Cliff Muntu, sok atuh lah tingali Jatinangor ti sudut anu lain. Pariwisata, misalna. Maneh anu beuki wisata balanja, terutama balanja mata, mangga pelototan weh awewe Unpad anu gareulis. Anu beuki santai bari maen golf, mangga lajeungkeun ka BGG, asal tong poho ngadua dina kuburan Balanda nu deket dinya, bisi aya nanaon. Anu beuki wisata spiritual, naek we ka Gunung Geulis, cicing sapeupeuting jeung kuncen tangkal beringin tah. Ulah hilap oge ka anu beuki wisata balanja nu nyaanan balanja, tungguan weh poe Minggu enjing. Urang abring-abringan ka Pasar Unpad. Atawa anu hayang leuwih legeg, Jatinangor Town Square buka ti jam 10 isuk nepi ka jam 9 peuting tah.
Tah, folks, rea oge lah kaleuwihan anu aya di Jatinangor. Ayeuna mah mun hayang ngabalikeun deui kedamaian sosial, hayu urang sararea ngabangun Jatinangor sakinah tumaninah. Piceun anu goreng, candak anu alus. Jadi, hayu urang sararea miceunan barudak IPDN anu garoreng, candak anu karasep/gareulis!!!

Who's Eminem To Me?

Headtopleft Malem-malem dengerin Lose Yourself-nya Eminem, ada sesuatu yang menggelitik dan bikin tangan gue gatel buat nulis tentang sesuatu itu. Eminem - I love you, man - emang menjadi salah satu ikon penting di industri black music, sekaligus menjadi bukti bahwa musik rap bukanlah milik kaum negro saja. Sebelum Em, kita pernah kenal Vanilla Ice yang kondang dengan Ice Ice Baby-nya. Tapi tentu saja, sang Iceman nggak lagi bisa berjaya karena saat ini adalah saatnya Em.
Kemaren gue sempet baca artikel - entah di mana -  tentang Em yang dikritik beberapa penyanyi rap yang menganggap lagu-lagu Em terlalu rasial dan banyak ngritik pemerintah.  Contohnya, di lagu White America yang - ni kalo gue nggak salah interpretasi ya - yang nyeritain betapa anak-anak dari kaum terpinggirkan - even if they are white -  pengen dianggap 'ada' oleh birokrat Amerika, bahwa mereka juga bisa mempersembahkan kecintaan mereka kepada negaranya. Em mengkritik sikap pemerintah yang terkesan a priori terhadap orang-orang yang hidup di jalanan. White America! I could be one of your kids...! Yang lucu, di lagu itu ada kritik juga untuk industri musik rap yang mungkin terlalu meremehkan orang 'bule' yang bisa ngerap kayak Em. When I was underground no one gave a fuck I was white, no labels wanted to sign me almost gave up I was like...! Di Square Dance, Em menyentil Kabinet Bush  with a plan to ambush this Bush administration, mush the Senate's face in, dan ngajakin orang-orang to push this generation of kids to stand and fight for the right to say something you might not like...! Em juga mengkritik kegemaran Amerika me-wajibmiliter-kan orang-orang dengan lirik yang cukup bused - all this terror America's demands action, next thing you know you've got Uncle Sam's ass askin' to join the army and what you'll do for the Navy, you're just a baby gettin' recruited at eighteen...
Tapi lepas dari itu semua, bagi gue Em cuma nunjukin how he concerns about what happens to and around him. Dia nyeritain betapa kekerasan begitu gampang dilakukan oleh orang-orang yang begitu mudah lepas lendali di lagu Guilty Conscience, dia nyeritain penyesalannya punya ibu yang tidak bertanggungjawab dan nggak pernah mau repot-repot ngurusin dia dan Nate, adiknya di Cleaning Out My Closet. Di Hallie's Song dan Mockingbird, Em nunjukin kalo dia sayang banget ke anaknya, Hallie, dan berjanji bakal jadi ayah yang baik (Hallie I know you miss your mom and you miss your dad when I'm gone, but I'm trying to give you the life that I've never had), meskipun di Lose Yourself, ada ketakutan dalam diri Em kalau-kalau dia nggak bisa ngebahagiain Hallie seperti ayahnya sendiri nggak bisa ngebahagiain dia (he's no father, he goes home and barely known his own daughter).
Bagi gue, Em cuma mencoba bersikap terbuka terhadap dirinya dan apapun yang terjadi di lingkungannya. Dengan lagu-lagunya, ia ngajakin orang-orang untuk menyadari apa yang terjadi dan berani bersuara untuk itu. Konflik-konflik yang disuarakan Em dalam lirik-liriknya - baik konflik pribadi atau konflik sosial - banyak terjadi di sekeliling kita, dan dalam liriknya pun, Em ngasih solusi gimana kita mesti menyikapi konflik itu.
Lose Yourself adalah lagu yang  pas buat orang-orang "freak" kayak gue. Lagu ini, jika diselami dengan penuh perasaan (alahh...) bisa jadi pembangkit semangat. Ketika ingin ngelakuin sesuatu, kadang kita nggak cukup berani untuk memulai, at least, mencoba. Padahal sesuatu itu adalah hal yang kita cita-citain sejak jaman jebot, dan kita pengen banget meraihnya. Kadang kita gugup (his palms are sweaty, knees weak arms are heavy) bahkan ada yang bisa muntah kalo dah gugup (there's vomit on his sweater already, mom's spaghetti). Semua itu dialamin juga sama Em waktu pertama kali ikutan Rap Battle, sebelum ngetop tentu. Tapi kalo itu emang udah jadi cita-cita, daripada ngejarnya nanggung, kenapa nggak basah sekalian? (you'd better lose yourself in the music, the moment, you own it, you'd better never let it go!). Kenyataannya, cita-cita emang nggak gampang diraih karena selalu ada cobaannya, tapi kalo kita nggak putus asa, semuanya bakal lancar-lancar aja (I've been chewed up and spit out and booed off stage, but I kept rhymin' and stepwriting the next cypher). Hidup itu keras, man, dan kalo kita nggak berani memilih atau bertindak, kita nggak bakal kemana-mana. Success is my only motherfuckin' option, failure's not. Mom I love you but this trailer's got to go, I cannot grow old in Salem's lot. Orang yang bakal sukses adalah orang yang menyadari bahwa hidup itu nggak selalu gampang. Cuz man, this goddamn foodstamps don't buy diapers. Tapi, man, jangan telen mentah-mentah lirik di lagu 'Till I Collapse; I will not fall, I will stand tall, feel like no one can beat me...! Bisa takabur!

Yeah whatever...peduli amat lo suka sama Eminem ato nggak, tulisan ini dibikin buat Em-lovers (sebutan buat fans Em apa ya? Masa' Eminemers gitu?) ato mereka yang nggak ngeremehin kekuatan lirik lagu yang kadangkala juga bisa ngasih input positif (Well, I'm not an Em-minded, but I love him anyway). Yeah whatever. Gue pengen ngasih lagu Mockingbird buat seorang teman yang saat ini lagi jauh dari istri dan anak perempuannya. Seenggaknya, yang dirasain temen gue itu mungkin sama ama yang diungkapin Em di lagu itu. Yah...semoga sang temen dikasih jalan buat ngedapetin kebahagiaannya kembali. (Om, saya ndak sebut nama lho!!).

April 10, 2007

Enaknya IPDN diapain ya?

Belom ilang ingatan kita tentang kasus kematian Wahyu Hidayat taon 2003 kemaren, kejadian serupa dialamin juga sama Cliff Muntu, praja Madya IPDN. Cuma gara-gara telat latihan Pataka (apa pasaka ya?) - ada yang bilang gara-gara salah megangin bendera! - doi dihajar sama senior-seniornya sampe lewat. Berdalih pendisiplinan, sang senior-senior durjana itu "menghilangkan" nyawa yang bukan mereka pemberinya.
Kontroversi pun terjadi di seputar kasus ini. Beberapa pihak pengen IPDN dibubarin aja karena ditakutkan kasus serupa bakal kejadian lagi. Tapi, pihak-pihak yang menolak IPDN dibubarin juga nggak dikit. Mereka-mereka ini yang ngerasa bahwa IPDN masih dibutuhkan untuk mencetak pamong-pamong praja yang berkualitas dan menjadi tempat tumpuan bangsa.
Terus-terang aja, gue agak tersinggung dengan alasan penolakan pembubaran IPDN itu. Bukan berarti gue setuju IPDN dibubarin, tapi kalo dengan alasan IPDN dibutuhin buat menghasilkan pamong praja yang berkualitas dan menjadi tempat bertumpunya harapan bangsa, ntar dulu! Kagak ngaca apa? Kalo junior mereka aja nggak disayang dan malah dihajar sampe mati begitu, gimana mereka mo sayang sama rakyat? Tanpa cetakan IPDN pun, masih banyak calon-calon pamong praja yang masih bisa diandelin. Orang muda Indonesia masih banyak kok. Universitas-universitas di Indonesia masih pada punya fakultas ilmu pemerintahan. Persoalan mereka nantinya berkualitas dan bisa dijadiin tumpuan harapan bangsa, itu kan diliat dari niat dan i'tikad mereka. Kalo emang mereka punya niat ngemong rakyat dengan baik, Insya 4JJI mereka pun bakal jadi pamong praja yang baik. Yang dibutuhin rakyat Indonesia itu pamong yang mau ndengerin masalah-masalah mereka, bukan pamong yang dikit-dikit ngebentak, dikit-dikit minta duit. Pantesan Indonesia nggak bisa maju, orang calon-calon pamongnya aja dididik dengan sadis kok!
Gue punya beberapa pemikiran yang gue pikir penting buat ngejawab pertanyaan: "Enaknya IPDN Diapain Ya?". Sayangnya, pemikiran gue ini cuma bisa gue tulis di sini, nggak bisa gue lontarin ke mana-mana. Percuma, siapa sih yang mau dengerin gue? Gue kan terkenal anak baek-baek yang pantang ngomong frontal!
1. Kalo pun IPDN masih tetep dipertahanin ke'berada'annya, gue pikir lebih baek kalo seragam mereka dicopot aja. You know, these kind of silly uniforms that make them act like soldiers. These uniforms make their military intuitions grow up more and more each day. Coba kalo anak-anak IPDN itu kuliahnya pake baju biasa aja kayak anak kuliahan yang laen, mereka mungkin nggak akan nerapin sistem disiplin ala militer itu. Toh, selepas mereka dari IPDN, mereka nggak bakal kerja sambil ngangkat bedil kan? Mereka kerjanya di belakang meja lho! Ongkang-ongkeng, sementara tentara-tentara yang memang di'disiplin'kan dengan keras, kerja susah-payah ngejagain NKRI.
2. Hapusin sistem pangkat yang ada di IPDN. Jangan sebut mereka sebagai praja, sebutlah mereka sebagai mahasiswa. Mahasiswa tingkat satu, mahasiswa tingkat dua, dan seterusnya. Stop calling them "Praja Muda, Praja Madya, Praja Nindya, dan Praja Wasana". Selama sistem pangkat ini masih ada, ego senioritas mereka akan tetap bercokol kayak kutu nempel di rambut yang bertaon-taon gak ketemu sampo. Kadang-kadang lucu juga kalo gue inget. Kita kan kalo nggak lulus mata kuliah tertentu, kita bisa ngulang sama angkatan di bawah kita. Mereka menyebut hal itu sebagai "turun pangkat". Apaan turun pangkat? Emangnya ente tantara? Tantara palastik!
3. Yang dibutuhin di IPDN bukanlah pendisiplinan fisik seperti yang kita tau. Mereka butuh pendisiplinan mental. Jangan dulu deh ke praja-prajanya, ke pengasuh-pengasuhnya aja dulu. Mental-mental tragical-seniority ini yang diwarisin dari para pengasuh yang notabene, bo, adalah alumni IPDN juga. Gue setuju sama pernyataan Siapa Fanggadea (apa fanggidea?) itu, mantan praja IPDN dari NTT yang bilang mending pengasuh-pengasuh IPDN diganti semua. Ganti aja sama dokter-dokter jiwa. Kirim semua dokter jiwa yang kompeten dari seluruh Indonesia ke IPDN buat jadi pengasuh. Dijamin, semua pamong praja kita di taon 2045 bakalan benerrrr!!!

Lepas dari itu semua, I've got nothing to lose whether the government dismiss IPDN or not. Gue toh emang nggak pernah bersimpati pada praja-praja IPDN pasca 90-an. Menurut gue - dan gue yakin juga menurut lebih dari separuh penduduk Jatinangor - mereka bukanlah didikan yang baik untuk menjadi pamong praja. Beberapa praja IPDN di kosan gue kerjaannya mabok mulu. Hobi ngebentak-bentakin orang, bahkan orang tua! Di mana-mana, mereka tuh yang selalu bersikap pengen dihargai dan dianggap lebih tinggi dari 'orang sipil', tapi mereka sendiri jarang yang bisa - dan mau - ngehargain orang dan kadangkala mereka lupa kalo mereka tuh 'sipil', bukan militer. Kalo soal mabok-mabokan dan cewek-cewekan, kita sih maklum aja, they can afford them by salary they get from IPDN. Udah mah kuliah dibayar, lulus langsung kerja, bo. Bikin sirik ngga seh? Nah ini nih yang juga bikin mereka 'belagu'. Mereka ngerasa diri sebagai 'the government's golden boy'. Anak emas pendidikan Indonesia. Di saat jutaan anak Indonesia nggak bisa sekolah karena nggak ada biaya, pemerintah justru menghamburkan uang mbayarin kuliah "anak-anak emas" mereka yang - faktanya - banyak di antara mereka adalah "titipan" pemda/pemkab kontingen asal mereka, tajir pula. Seenggaknya mereka masih bisa ngebiayain kuliah mereka sendiri, udah gede ini, bo! Kalo gue jadi SBY, gue nggak bakal ridho uang sekolah yang gue kasih ke mereka dipake buat hura-hura, muabok, atau semacemnya. Sori nih ya buat yg tersinggung, tapi itulah fakta yang sering kami liat di Jatinangor.
Yah gitu deh, kalo mo bicara panjang lebar tentang gimana anak-anak IPDN itu sebenernya, reporter-reporter TV itu sebaiknya jangan cuma cari informasi di lingkungan dalam IPDN, subjektif. Kumpulkan juga testimoni dari masyarakat setempat buat nyari berita yang objektif. Seenggaknya, usaha itu bisa menghasilkan bahan pertimbangan buat menjawab pertanyaan: Enaknya IPDN dibubarin apa ditutup aja ya?

April 02, 2007

Pembatas Buku

Selembar kertas saja,

kadang tebal kadang tipis

kadang bergambar, kadang cuma bergaris

Terselip saja di antara halaman,

kadang rapi, kadang lecek berkuman

Saat buku dibaca, ia menghirup udara

Saat buku tak dibaca, ia terjebak ruang hampa